Seputar Rajab
Bulan Rajab akan kita masuki beberapa hari lagi, 26 Juli 2006 ini insyaAllah. Ini berarti bulan depan adalah bulan Sya’ban dan dua bulan lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan, Insya Allah, jika Allah Mengijinkan. Ramadhan adalah bulan berjuta keutamaan. Sya’ban juga memiliki keutamaannya sendiri, terutama bagi mereka yang bersiap-siap, melakukan pemanasan, agar bisa langsung tancap gas begitu Ramadhan tiba.
Lalu bagaimana dengan bulan Rajab? Bulan Rajab termasuk bulan haram dan puasa di bulan-bulan haram itu maqbul (diterima) dan musthahab (disukai) dalam keadaan apa pun. Bulan haram adalah bulan yang peperangan dilarang atau diharamkan dalam bulan itu. Bulan haram ada empat bulan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” QS. At Taubah [9] : 36.
Sunnah berpuasa di bulan haram diriwayatkan dari kisah Mujibah al Bahiliyah, dalam hadits riwayat Abu Daud.
Ia menemui Rasulullah saw lalu pergi. Setelah setahun berlalu, ia datang lagi dengan penampilan dan keadaan yang telah berubah. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, engkau mengenalku?” “Siapa kamu?”, tanya Rasul. Ia menjawab, “Saya Al-Bahili, yang pernah datang padamu tahun lalu.” Beliau menjawab, “Apa yang mengubah dirimu, padahal dahulu engkau berpenampilan bagus?” Ia menjawab, “Saya tidak makan selain pada waktu malam semenjak berpisah denganmu. “
“Mengapa engkau menyiksa diri?”, tanya Rasul. Beliau lalu meneruskan, “Puasalah pada bulan sabar dan sehari setiap bulan.” Ia berkata, “Tambahkanlah karena aku kuat melakukannya.” “Puasalah dua hari.”, jawab Rasul. “Tambahkanlah.”, tawarnya. “Berpuasalah tiga hari.”, jawab Rasul. “Tambahkanlah.”, pintanya lagi. Beliau menjawab, “Puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah.” Beliau berkata sambil menunjukkan tiga jarinya, menggenggam lalu melepaskannya.
Namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan puasa sebulan penuh pada bulan Rajab. Sedangkan hadits-hadits yang menceritakan bahwa kalau melakukan shalat ini dan itu akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, jika melakukan puasa sejumlah hari akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, atau barang siapa beristighfar akan mendapatkan ganjaran ini dan itu; kebanyakan adalah hadits dhaif dan mungkar. Misal hadits, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku (Rasulullah SAW), dan Ramadhan adalah bulan umatku.”; hadits ini oleh para muhaddits dimasukkan sebagai hadits palsu dan mungkar. Meski demikian, tidak berarti kita tidak boleh shalat, puasa, atau pun istighfar pada bulan Rajab ini.
Jika pernah mendengar puasa di tanggal 27 Rajab, maka DR. Yusuf Qaradhawi dalam buku Fiqh Puasa-nya memasukkan puasa ini sebagai puasa bid’ah. Orang-orang yang berpuasa pada tanggal ini melakukannya karena malam 27 Rajab adalah malam Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak dikenal oleh seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang menjadikan malam Isra’ sebagai malam istimewa, berbeda dengan yang lain. Para sahabat dan tabi’in tidak pernah mengkhususkan malam Isra’ dengan amalan-amalan tertentu, tidak juga mengenangnya dengan acara-acara tertentu. Oleh karena itu, tidak ada malam–termasuk malam Isra’, yang dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah SAW. Tidak ada dalil yang diketahui tentang bulannya, tentang 10 harinya, apalagi tentang hari H, bahkan nukilan tentang itu, semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tidak ada yang qath’i tentang itu dan tidak ada syariat bagi kaum muslimin yang mengistimewakan malam itu dengan shalat atau lainnya.”
Sehingga, yang paling baik bagi kita untuk bulan Rajab ini adalah memperbanyak amalan-amalan shalih dan memperbanyak puasa karena keutamaan bulan haram, serta tidak berpuasa sebulan penuh layaknya bulan Ramadhan; bukan karena ganjaran ini dan itu yang keshahihan syari’atnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi dalam rangka mempersiapkan diri menjelang pertemuan dengan Ramadhan.
Wallahu a’lam bishshawab.
Referensi:
Fiqh Puasa, DR. Yusuf Qaradhawi
Fiqh Ramadhan, Ahmad Sarwat, Lc
& Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Juli 2006 (8)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
NICE OK….
Assalamu’alaikum
Pas nyari di google tentang “puasa bulan rajab” ketemu blog Martsiska… bagus dan mungkin kalo nanti-nanti jadi referensi aku, bole kan… makasih sebelumnya
Tapi aku nemu juga blog tentang hadist palsu berkaitan dengan itu, silahkan coba klik di http://tausyiah275.blogsome.com/2005/08/12/hadits-hadits-palsu-bulan-rajab/
Okay, wassalam
aku juga udah dapt dua niihh : tapi agak terlambat posting comment soalnya juga baru dapet dan baru tau… mmmm semoga membantu buat yang mencari2 info yang sama
http://www.mail-archive.com/nasyid-indonesia@yahoogroups.com/msg01904.html
http://www.mail-archive.com/milis-nova@news.gramedia-majalah.com/msg00514.html
tx yah yah buat mart siska anggraeni
Assalamualaikum wrb.
salam kenal tuk mart siska….
subhanallah…makasih yah artikel-nya…:)
Assalamualaikum…
Lagi search di google, ketemu ini juga, ” OK ”
makasih atas artikelnya
Aha, kayaknya semua ketemunya pada waktu googling. So, say thanks to google. Jangan dibid’ahkan melulu. Anyway, artikelnya bagus, saya sudah rekomendasikan linknya di milis untuk dikunjungi. Salam kenal buat semua.
Saya ucapkan terima kasih juga untuk Mart Siska, artikelnya lumayan memperdalam wawasan. Mudah-mudahan kita semua termasuk umat yang beruntung, dan tolong ditambah dengan artikel-artikel religi lainnya, kalau bisa dengan aplikasinya supaya bisa langsung dilaksanakan. Terima kasih dan salam kenal.
Jeng Siska ….muach…. ma’ kasih atas info nya, taukan sayah nech masih awam n’ newbie di bidang itu jadi doain yach biar aq selalu istiqomah dijalanNya, n’ sekarang lagi coba mempraktekkannya
Makasih Siska … info2nya bagus …
Makasih siska…info2nya
111!!!!!!! bagus!!!!!!!!syukron
hadist dhoif tidak bermasalah kalau untuk keutamaan amal,kecuali untuk dasar hukum itu bermasalah( tidak boleh).
tiada yg lebih indah selain menambah ilmu untuk terus semangat beribadah, thanks for Siska
Syukron untuk neng Siska,
aku pengen tau donk :
“Yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril as “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?”
Maka berkata Jibrilb as “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca shalawat untuk engkau di bulan Rajab ini.”
apakah hadist ini shohih???
ditunggu infonya ya…
[...] Seputar Rajab [...]
Ping balik oleh @–@ » Blog Archive » Seputar Rajab | September 10, 2008