Mart Siska Anggraeni

Menulis untuk K E A B A D I A N

Insan Rabbani

Insan Rabbani: tetap belajar, tetap mengajarkan, Al Quran…
” Akan tetapi (dia berkata), ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’ “  QS. Ali ‘Imran [3]: 79

Insan Rabbani; mengenakan pakaian kehidupan dengan kesadaran; mengetahui ia tidak datang dengan tiba-tiba; memahami kepada siapa ia akan kembali; mengenali dimana rumah keabadiannya; menyadari ia tidak diciptakan untuk sekedar makan dan minum, bersenda gurau, bermain-main, kemudian kembali menjadi tanah;
” Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku pada jalan yang lurus, (yaitu) jalan agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.’  Katakanlah, ‘Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’  Katakanlah, ‘Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?’ ” QS. Al An’am [6] : 161-164

Insan Rabbani: fitrahnya adalah iman kepada Allah swt; lapar dan haus sehingga menemukan Allah lantas beriman kepadaNya; tidak akan menemukan ketenangannya kecuali berlindung kepadaNya;
” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.  Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. ” QS. Ar Ruum [30] : 30

Insan Rabbani; seperti seorang budak dengan satu tuan saja; menerima perintah dari satu tuan saja;
” Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja).  Adakah kedua budak itu sama halnya? ” QS. Az Zumar [39] : 29
Insan Rabbani; bukanlah manusia malaikat yang bebas cacat; adalah manusia yang suka bertaubat; merasa menyesal jika berbuat salah; segera kembali kepada Allah jika berbuat maksiat; kadang dibayang syahwat haram lalu meninggalkannya karena malu kepada Allah; kadang dibayang harta haram lalu menolak dengan qana’ah–merasa puas; kadang dibayang kezhaliman lalu iman melarangnya dan sibuk mengingat Allah; kadang ia mampu di atas lawannya tapi tak serta merta memuaskan dendam;
” Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?  Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. ” QS. Ali ‘Imran [3] : 135

Juli 20, 2006 Ditulis oleh martsiska | Islam | | No Comments Yet

Seputar Rajab

Bulan Rajab akan kita masuki beberapa hari lagi, 26 Juli 2006 ini insyaAllah. Ini berarti bulan depan adalah bulan Sya’ban dan dua bulan lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan, Insya Allah, jika Allah Mengijinkan. Ramadhan adalah bulan berjuta keutamaan. Sya’ban juga memiliki keutamaannya sendiri, terutama bagi mereka yang bersiap-siap, melakukan pemanasan, agar bisa langsung tancap gas begitu Ramadhan tiba.

Lalu bagaimana dengan bulan Rajab? Bulan Rajab termasuk bulan haram dan puasa di bulan-bulan haram itu maqbul (diterima) dan musthahab (disukai) dalam keadaan apa pun. Bulan haram adalah bulan yang peperangan dilarang atau diharamkan dalam bulan itu. Bulan haram ada empat bulan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” QS. At Taubah [9] : 36.

Sunnah berpuasa di bulan haram diriwayatkan dari kisah Mujibah al Bahiliyah, dalam hadits riwayat Abu Daud.
Ia menemui Rasulullah saw lalu pergi. Setelah setahun berlalu, ia datang lagi dengan penampilan dan keadaan yang telah berubah. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, engkau mengenalku?” “Siapa kamu?”, tanya Rasul. Ia menjawab, “Saya Al-Bahili, yang pernah datang padamu tahun lalu.” Beliau menjawab, “Apa yang mengubah dirimu, padahal dahulu engkau berpenampilan bagus?” Ia menjawab, “Saya tidak makan selain pada waktu malam semenjak berpisah denganmu. “
“Mengapa engkau menyiksa diri?”, tanya Rasul. Beliau lalu meneruskan, “Puasalah pada bulan sabar dan sehari setiap bulan.” Ia berkata, “Tambahkanlah karena aku kuat melakukannya.” “Puasalah dua hari.”, jawab Rasul. “Tambahkanlah.”, tawarnya. “Berpuasalah tiga hari.”, jawab Rasul. “Tambahkanlah.”, pintanya lagi. Beliau menjawab, “Puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah.” Beliau berkata sambil menunjukkan tiga jarinya, menggenggam lalu melepaskannya.

Namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan puasa sebulan penuh pada bulan Rajab. Sedangkan hadits-hadits yang menceritakan bahwa kalau melakukan shalat ini dan itu akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, jika melakukan puasa sejumlah hari akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, atau barang siapa beristighfar akan mendapatkan ganjaran ini dan itu; kebanyakan adalah hadits dhaif dan mungkar. Misal hadits, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku (Rasulullah SAW), dan Ramadhan adalah bulan umatku.”; hadits ini oleh para muhaddits dimasukkan sebagai hadits palsu dan mungkar. Meski demikian, tidak berarti kita tidak boleh shalat, puasa, atau pun istighfar pada bulan Rajab ini.

Jika pernah mendengar puasa di tanggal 27 Rajab, maka DR. Yusuf Qaradhawi dalam buku Fiqh Puasa-nya memasukkan puasa ini sebagai puasa bid’ah. Orang-orang yang berpuasa pada tanggal ini melakukannya karena malam 27 Rajab adalah malam Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak dikenal oleh seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang menjadikan malam Isra’ sebagai malam istimewa, berbeda dengan yang lain. Para sahabat dan tabi’in tidak pernah mengkhususkan malam Isra’ dengan amalan-amalan tertentu, tidak juga mengenangnya dengan acara-acara tertentu. Oleh karena itu, tidak ada malam–termasuk malam Isra’, yang dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah SAW. Tidak ada dalil yang diketahui tentang bulannya, tentang 10 harinya, apalagi tentang hari H, bahkan nukilan tentang itu, semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tidak ada yang qath’i tentang itu dan tidak ada syariat bagi kaum muslimin yang mengistimewakan malam itu dengan shalat atau lainnya.”

Sehingga, yang paling baik bagi kita untuk bulan Rajab ini adalah memperbanyak amalan-amalan shalih dan memperbanyak puasa karena keutamaan bulan haram, serta tidak berpuasa sebulan penuh layaknya bulan Ramadhan; bukan karena ganjaran ini dan itu yang keshahihan syari’atnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi dalam rangka mempersiapkan diri menjelang pertemuan dengan Ramadhan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi:
Fiqh Puasa, DR. Yusuf Qaradhawi
Fiqh Ramadhan, Ahmad Sarwat, Lc

Juli 20, 2006 Ditulis oleh martsiska | Islam | | & Komentar