Mart Siska Anggraeni

Menulis untuk K E A B A D I A N

Kaca Film

Bagaimana jika bos kita selalu datang lebih pagi dan pulang lebih akhir dibandingkan kita? Kemudian ruangannya ada di tengah-tengah ruangan karyawan dan menggunakan kaca film (kaca riben) sehingga ia bebas melihat ke arah kita, sementara kita tidak mengetahuinya. Sementara kita tahu pasti karakternya adalah selalu memperhatikan–kalau tidak bisa dikatakan mengawasi–kinerja setiap karyawannya. Sebenarnya sulit juga memastikan bahwa sang bos ada di ruangan atau tidak, karena kebiasaannya yang datang awal dan pulang akhir, tapi tak seorang pun berani ambil resiko berasumsi bahwa sang bos bisa jadi sedang tidak berada di ruangannya–tidak sedang mengawasi dengan teliti pekerjaan karyawannya. Semua tampak hebat dan sempurna dengan bantuan si kaca film.

 

Efeknya apa ya kira-kira? Yang jelas semua karyawan pasti berpikir beberapa kali atau paling tidak sesama berkelesik bisik, “Eh, pak bos ada nggak?”, setiap kali hendak mangkir. Walhasil, kinerja karyawan lebih terjamin bukan? Semua karyawan pasti termotivasi untuk lebih bisa menahan diri ketika tergoda melenceng dari jalur kerjanya. Sepertinya tampak nyaris hebat dan sempurna dengan bantuan si kaca film.

 


Jika dengan atasan, kita bisa saja seperti itu, kira-kira bagaimana selayaknya kita kepada Allah? Bukan saja kaca film, tetapi
Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Hidup kekal lagi terus menerus Mengurus mahklukNya, tidak mengantuk, tidak pula tidur. Diajarkan kepada kita oleh Nabi kecintaan kita, Muhammad saw, hendaknya kita menyembah Allah seakan kita ini melihat Allah lalu kalaulah mata tak mampu melakukannya sesungguhnya Allah itu selalu melihat kita. Ini lah yang Nabi kita ajarkan kepada kita tentang IHSAN.

 


Daun mana yang gugur tanpa Allah Mengetahuinya? Dahan mana, ranting yang mana, yang Allah tidak mengetahui berapa banyak lembar daun padanya? Laut mana yang Allah alpa dari jumlah ikan-ikan di dalamnya? Rongga dada manusia yang mana yang Allah ragu akan banyaknya udara yang dapat memenuhinya? Perbuatan
yang mana, yang baik kah atau yang buruk kah, yang bisa disembunyikan dari ketelitianNya?

” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. ” QS. Al An’am [6] : 60

Benar-benar kesialan bukan, bagi orang-orang yang gagal menemukan pengawasan Allah dalam hidupnya, padahal Allah itu lebih dekat dibandingkan urat lehernya. ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ” Al Baqarah [2] : 186. Kemudian orang-orang itu berlaku sekehendak hatinya di muka bumi.

Geli ya, sekilas mencermati gaya para foto model di depan kamera sang fotografer? Bergaya sedemikian manisnya demi jepretan kamera sang fotografer. Sebenarnya kita ini tidak kalah keren dengan mereka. Kalau mereka ‘wajib’ bergaya sekian detik untuk bidikan si juru foto, kita ini kalau benar yakin akan pengawasan Allah, wajib bagi kita bergaya full-manis di hadapan kamera Allah, tidak tanggung-tanggung: 7 x 24 jam! Nah, tugas besar kita hanya satu kok, bertarung dengan hawa nafsu sendiri dan godaan syetan la’natullah. Kalau orang Sunda bilangnya, pakuat-kuat; pasabar-sabar, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih sabar. Eh, jangan salah, syetan juga luar biasa sabarnya menanti detik-detik tergelincirnya kita. Na’udzubillah.

Coba kita bayangkan, kalau kita sungguh tulus bergaul dengan Allah, menikmati kebersamaanNya, dan berbahagia atas pengawasanNya, kapan kita berani menjadi pembangkang di hadapanNya? Rasanya tidak akan pernah bukan? Sementara kita juga meyakini bahwa hanya ada dua hal menjadi pilihan kita di ujung jalan kita, kenikmatan surgaNya atau adzab nerakaNya.

Tampak klise memang, meminta kita berubah perilaku dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, tetapi ini benar adanya. Silakan bertanya kepada diri sendiri dan siapkan jawaban yang jujur.

Ibnul Qayyim berkata bahwa hawa nafsu manusia itu layaknya air, akan selalu mencari tempat yang lebih rendah. Setiap tetes air, dari mana pun gunung mata airnya, mengetahui bahwa ia harus pergi ke laut. Tetapi air bisa diangkat ke atas–manusia telah menemukan caranya–dengan bantuan pompa. Ini juga seharusnya bagaimana manusia memperlakukan dirinya; ia harus menemukan bagaimana mengangkat dirinya dari kerendahan menurutkan hawa nafsu. Janji surga dan neraka adalah salah satu pompanya.

Jika kaca film telah bisa menginspirasikan sebuah motivasi kerja, bukankah Allah Memiliki lebih dari sekedar kaca film untuk memotivasi kita? Jangan setengah-setengah menjadi baik; hati kita tahu Allah itu ada; kita pun yakin Allah Melihat kita dengan teliti!

Juli 20, 2006 Ditulis oleh martsiska | kontemplasi | | No Comments Yet

Boomerang

Bumerang atau Boomerang, pernah tahu ini kan? Boomerang adalah sebuah kelompok musik rock asal Surabaya yang resmi berdiri 8 Mei 1994; bertepatan dengan masa-masa aku menanti kelulusan SD-ku di Malang, kampung halaman. Apakah aku termasuk penggemar beratnya semenjak mula mereka berkiprah di blantika musik Indonesia? Mungkin akan nyaris seru jalan hidupku jika demikian adanya. Sayangnya, musik rock sama sekali bukan gayaku, kecuali lagu It’s My life-nya Bon Jovi dan We Are The Champion-nya Queen.

Pernah dengar bumerang yang lain kan? Yap, benar. Bumerang adalah senjata khas suku Aborigin di Australia. Bumerang adalah senjata yang bisa kembali ke pelempar ketika dilempar. Gerakan bumerang adalah kombinasi antara translasi dan rotasi, mirip dengan bilah baling-baling helikopter. Mungkin Anda sekarang terlintas sebuah pertanyaan, mengapa grup musik asal Surabaya itu, mengganti nama band semula–Lost Angels, menjadi Boomerang. Sayangnya kita tidak akan membahas itu kali ini….

If you wonder, how boomerang works, then we have something in common. Sebenarnya ternyata, ada dua macam bumerang, bumerang yang bisa kembali ke pelempar–returning boomerang, dan bumerang yang tidak bisa kembali. Tentu saja yang menarik adalah returning boomerang, karena untuk membuat memerlukan perhitungan khusus agar ringan dan bisa kembali ke pelempar ketika dilempar. Jika dilemparkan dengan benar, returning boomerang akan terbang di udara, membentuk jalur edar lingkaran dan kembali ke titik awal ia dilemparkan.

Jika kita melemparkan sebatang kayu yang lurus, ia akan bergerak ke satu arah, terus meluncur, sampai akhirnya gravitasi menariknya jatuh ke tanah. Lalu bagaimana bentuk bumerang yang unik itu bisa membuatnya berada di udara lebih lama dan bergerak kembali ke arah pelempar?

Ciri pertama bumerang adalah paling tidak ia memiliki dua bilah yang bersatu, sehingga ia berputar di titik tengahnya, membentuk kestabilan geraknya selama berada di udara. Dua sayap yang digabung dalam satu benda inilah yang menjadi kunci dari jalur edarnya yang sedikit aneh–melingkar. Sayap-sayap bumerang didesain dengan sedikit sudut dan memiliki rongga udara di dalamnya. Desain detailnya serupa dengan desain sayap pesawat. Kalau lebih lanjut membaca bagaimana pesawat bekerja, kita akan tahu bagaimana desain ini memberikan daya angkat pada sayap itu.

Menarik bukan, sedikit menyelidik bagaimana manusia bisa membuat benda semacam returning boomerang ini, yang bisa bergerak kembali ke arah si pelempar. Kalau sedikit merenung lebih jauh, rupanya banyak kejadian hidup kita yang mungkin menginspirasi si penemu bumerang. Ingat kata mutiara ini, “Siapa yang menanam, dia yang akan menuai” ? Rupanya sunnatullah alam ini memang begitu adanya; kita akan mendapatkan kembali apa-apa yang kita berikan, entah itu kebaikan atau kah keburukan.

Al Fudhail bin Iyadh berkata, ” Jika aku melakukan suatu maksiat maka aku akan melihat akibatnya dalam perilaku pembantu dan hewan tungganganku. ” Tentu seorang Al Fudhail bin Iyadh tidak bertutur mengada-ada, tetapi pastilah merupakan mutiara hikmah kehidupannya.

Apakah Anda memiliki seorang ustadz atau ustadzah yang Anda belajar kepada beliau dengan rutin? Lalu pada saat yang sama, Anda juga membina beberapa orang yang mereka belajar kepada Anda secara rutin? Kalau iya, berarti kita memiliki kesamaan lagi. Aku pernah suatu ketika karena satu dan lain hal menjadi agak bandel dan nakal kepada ustadzahku, lalu itu berlalu selintas. Beberapa selang kemudian, aku menemukan seorang binaanku melakukan sesuatu yang nyaris serupa dengan yang aku lakukan kepada ustadzahku. Awalnya ingin tergoda untuk marah atau sekedar menegur dan menunjukkan bahwa ia telah berbuat salah, tapi kemudian sebuah kesadaran menyeruak, ” She was so me! “, dia begitu aku. Rupanya Allah sedang menunjukkan kepadaku, begini rasanya, begini sedihnya.

Pernahkah suatu ketika, dihadapkan kepada sebuah kondisi rumit yang berulang-ulang? Berputar-putar pada problematika yang itu-itu juga; bergerak kemanapun serasa bergerak melingkar, kembali ke titik semula, kembali ke permasalahan yang sama. Sebenarnya, apakah hakikat problematika atau permasalahan itu? Ustadz Hidayat Rohim dalam acara mabit MQS ke-19 di Masjid Baitul Ihsan BI, 15 Juli yang lalu, memaparkan bahwa, meski sebuah kejadian itu sama, hikmahnya bagi masing-masing hamba Allah, bisa jadi jauh berbeda. Untuk orang-orang beriman permasalahan atau musibah adalah sebuah ujian, sementara untuk orang-orang yang lalai, itu lebih merupakan sebuah teguran agar ia kembali ke jalan Allah. Adapun untuk orang-orang yang durhaka, pastilah itu semua adzab Allah baginya.

Entah itu sebuah ujian atau teguran, memang rasanya Allah berhak untuk terus menerus mengulangi itu terjadi kepada diri kita sejauh Allah menilai kita belum benar-benar selesai, belum benar-benar lulus dengan baik. Tentu saja parameter baik tidak baik itu menggunakan standar Allah, bukan apa yang direka-reka manusia.

Pernah tahu tentang karma? Karma; what you give, you’ll get back. Islam tidak meminta umatnya untuk beriman kepada karma. Boleh jadi, kita memang bahkan tidak perlu mengenal kosa kata ini sama sekali. Islam mengajarkan kepada kita untuk beriman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Kitab SuciNya, kepada RasulNya, kepada Hari Akhir, dan kepada Qadha dan Qadar, yang baik maupun yang buruk.

Kita wajib yakin dengan sebenar-benarnya bahwa setiap detil kejadian hidup kita adalah atas kehendak Allah. Semua sudah tertulis, pena sudah diangkat dan lembarannya telah kering. Sehelai daun pun, yang menguning kemudian jatuh gugur dari tangkainya, pasti telah tertulis rencana Allah untuknya. Lalu kita ini adalah makhluk Allah yang dibekali dengan akal dan qalbu; diberikan potensi untuk berpikir, merenung, menimbang baik dan buruk, mencoba memahami apa-apa yang Allah suka dan apa-apa yang Allah tidak suka. Kita boleh dan wajib menghitung diri; merenung atas semua fragmen kisah kita, kiranya apa yang Allah Kehendaki dariku kali ini.

Jika ada yang paling menginginkan kita untuk berhasil dunia dan akhirat, pasti itu adalah Allah; Dzat yang rahmat, nikmat, cinta dan karuniaNya tak mengenal batas. Allah telah menyiapkan untuk masing-masing kita sebuah jalan yang mungkin tidak mudah dan tenang, tapi Allah Menghendaki kita dengannya menjadi hamba yang semakin taat dan cinta kepadaNya, lalu hamba itu boleh asyik berharap dapat melenggang langkah ke surgaNya.

Imam Ibnu Al Jauzy berkata, ” Jika Anda merasa jiwa Anda kotor, maka ingatlah bahwa ada nikmat yang mungkin tidak Anda syukuri atau Anda melakukan suatu kesalahan. ” Jika ada yang tidak beres dengan hidup kita, pasti ada yang tidak beres juga antara kita dan Allah. Kita ini akan mendapatkan apa yang layak kita dapatkan. Jika keburukan yang kita lekatkan pada bumerang yang kita lemparkan, dari mana logikanya kita boleh berharap akan mendapatkan kebaikan bersamaan bumerang yang kembali kepada kita? Abu Ali ar Rudzabari mengingatkan kepada kita tentang ketertipuan, ” Satu hal yang menandakan bahwa engkau sangat tertipu ialah tatkala engkau berbuat jahat, namun Dia membalasmu dengan kebaikan, namun engkau tak kunjung ingin bertaubat, dengan mengira bahwa dosa-dosamu bakal diampuni. ” Na’udzubillah.

Jika telah mengerti benar bahwa bumerang yang akan kembali tidak akan membawa kebaikan jika melemparnya tanpa lekatan ketulusan, mengapa masih menahan diri dari bersegera kepada kesungguhan taat kepada Allah SWT. Padahal Allah berfirman dalam hadits Qudsi, ” Jika hamba-hambaku taat kepadaKu, maka akan Aku turunkan hujan kepada mereka di malam hari, Aku pancarkan matahari tanpa awan di pagi hari, dan tidak akan Aku perdengarkan gelegar guntur. ” Ataukah kita ini masih ragu atas janji Allah, bahwa ketika kita mendekatnya sejengkal, maka Allah akan mendekat kita sehasta; jika kita mendekatNya sehasta, Allah akan mendekat sedepa; kalau kita berjalan mendekatNya, maka Allah akan berlari.

Yuk, sama-sama kita siapkan bumerang-bumerang terbaik kita, dengan bahan baku pilihan dan perhitungan yang teliti. Lalu kita belajar bersama, bagaimana melemparnya dengan baik agar jalur edar lingkaran yang tercipta benar-benar akan mengarah geraknya kembali kepada kita. Kemudian kita akan sibuk menempelkan sebanyak mungkin kebaikan dan ketaatan pada bumerang itu dan… bismillah, bumerangnya terlempar dengan baik. Semoga edaran jalurnya tetap bersama edaran Islam, sehingga kelak kita akan menangkap kembali bumerang itu dengan kebahagiaan yang memuncak, karena Allah telah Ridha kepada kita. Allahumma Amin.

Juli 20, 2006 Ditulis oleh martsiska | kontemplasi | | & Komentar