Cobaan
~Ibnul Qayyim, Shaidul Khatir~
Cobaan terberat seseorang adalah jika ia tak merasa dirinya sedang mendapatkan cobaan, terlebih lagi jika ia sangat bergembira dengan cobaan itu. Cobaan pertama adalah berpaling dari kebenaran akibat kesibukannya dengan sesama makhluk. Adapun cobaan yang paling ringan bagi mereka adalah hilangnya kenikmatan dalam bermunajat dan kelezatan beribadah, kecuali bagi para lelaki dan wanita yang benar-benar beriman, mereka tidak merasakan hal-hal tersebut. Allah menjaga mereka. Keadaan batin mereka seperti lahirnya, bahkan lebih jernih lagi. Apa yang tersembunyi dari diri mereka tidak berbeda dari penampakan mereka, bahkan lebih indah lagi. Semangat mereka pun tinggi laksana bintang, bahkan jauh lebih tinggi.
Jika dikenal mereka menutupi diri mereka. Jika tampak kemuliaan mereka, malah mengingkarinya. Ketika manusia hanyut dalam kelalaiannya, mereka justru larut dalam kesadaran dan perenungannya. Mereka dicintai ole setiap jengkal bumi ini, sedang malaikat-malaikat langit membanggakannya. Kita memohonkan taufik Allah bagi para pengikut mereka, sambil kita memohon kepada Allah agar bisa mengikuti jejaknya.
Di Dalam Hati
Di dalam hati ini berantakan dan tidak akan terhimpun menyatu kembali kecuali menghadap Allah.
Di dalam hati ada keberingasan dan tidak akan dapat dihilangkan kecuali dengan turut mematuhi Allah.
Di dalam hati ada duka cita dan tidak akan sirna kecuali bersuka cita dengan ma’rifatullah dan tulus bergaul denganNya.
Di dalam hati ada kegelisahan dan tidak akan pernah tenang kecuali menyatu dengan Allah dan lari kembali kepadaNya.
Di dalam hati ada bara api kesedihan yang tidak akan dapat dipadamkan kecuali rela dengan perintah dan larangan Allah, qadha dan qadarNya, dan menggantungkan kesabaran hingga datang waktu perjumpaan denganNya.
Di dalam hati ada kebutuhan yang tidak akan dapat tertutupi kecuali dengan mencintai Allah, menggantungkan diri kepadaNya, terus berdzikir mengingatNya, benar-benar tulus ikhlas kepadaNya. Andai kata dunia dan semua isinya diberikan maka selamanya tidak akan dapat menutupi kebutuhan itu.
~~~Ibnul Qayyim~~~
-
Arsip
- Juli 2006 (8)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS