Mart Siska Anggraeni

Menulis untuk K E A B A D I A N

Kisah sang Bunda

Hamzah, begitu gagahnya nama si putra Sulung; mengenyam pendidikan sampai kelas 3 SMP saja. Itu pun tanpa mengikuti UN (Ujian Nasional)-nya karena alasan yang boleh dibilang klasik–tidak ada uang untuk membayar UN-nya. Suatu ketika sang Bunda menemukan ada pada si Sulung ini beberapa botol minuman keras. Kemudian si Sulung menjelaskan itu milik teman-temannya dan ia sendiri tidak pernah menyentuhnya. Trenyuh hati sang Bunda demi doanya yang senantiasa dilantunkan, ” Ya Allah, jagalah anak-anakku dari keterjerumusan. Jika terjadi sesuatu pada anakku, aku tidak mau mendengar dari orang lain ya Allah. Biarkan aku sendiri yang mengetahuinya. ” Kini si Sulung yang tidak sempat mengikuti UN telah bekerja mengandalkan kekuatan tenaganya di sebuah ITC; kalau sakit dan tidak masuk, tentu saja tidak ada penghasilan yang bisa diperoleh.

Muhammad Ja’far, putra kedua sang Bunda. Maret 2005 yang lalu, meninggalkan bangku sekolah semester 2 di kelas 5, lalu masuk ke pondok di daerah Parung, Bogor. Kasihan si Ja’far yang merasa malu ke sekolah karena sering menunggak bayaran sekolah. Di pondok dia pun tak betah. Ah, ternyata si kecil Ja’far yang usianya baru menapaki awal belasannya ingin benar menjadi hafidh saja; menghafal Qur’an; tak mau mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Ustadz di pondoknya rupanya tidak bisa mengerti ini, juga tidak bisa memberi pengertian kepada si kecil Ja’far. Ja’far harus mempelajari kitab-kitab berkertas menguning dengan tulisan Arab yang gundul. Rupanya Ja’far tidak menyukainya dan memilih kembali ke rumah orang tuanya di bilangan Kuningan, lalu menganggur saja beberapa bulan ini. Sang Bunda khawatir benar dan berulang kali berpesan padanya, ” Jangan sampai ikut-ikutan jadi joki ya nak… “. Di Setiabudi-Kuningan sini, sebelum jam 10 pagi atau sore sebelum waktu bebas 3-in-1, berderet-deret anak-anak belasan tahun usia SD, SMP, SMA menawarkan diri menjadi joki supaya mobil-mobil mengkilap itu bisa menerobos ke jalanan Sudirman.

Nurul Safiyyah, putri ketiga yang baru saja naik kelas 4. Sementara teman-temannya telah memiliki buku paket untuk setahun ke depan, Nurul kecil belum juga memilikinya sampai hari Senin kemarin–hari pertama masuk sekolahnya. Rp 220.000,00 belum bisa disiapkan sang Bunda yang ibu rumah tangga saja, sementara sang Ayah belum bisa dibilang memiliki pekerjaan; masih serabutan. Sementara uang hasil keringat si Sulung harus dibagi untuk ini dan itu. Nurul kecil sering menolak uang saku dari sang Bunda, ” Umi, kalau nggak ada nasi di rumah, Nurul nggak usah diberi uang saku, untuk nasi saja… ” Lalu sang Bunda berkata kepadaku, ” Mbak mungkin nggak percaya anak sekecil itu bisa berkata begitu, tapi ini bener mbak. Nanti kalau pas dia bangun, mbak bisa tanya sendiri. ” Ah, rupanya Nurul kecil sudah tidur dari sore.

Zainab. Nama yang cantik ini adalah milik putri keempat sang Bunda. Baru masuk SD tahun ini. Alhamdulillah bisa masuk SD Negeri, jadi si imut Zainab bebas dari SPP. Ya… ternyata sekolah itu tidak hanya butuh uang SPP, Zainab imut harus membeli seragam dan buku-buku. Untuk seragam Zainab tahun ini, sang Ayah meminjam uang dari kenalannya. Ah, jangan sampai Zainab tidak sekolah karena tidak punya seragam.

Bungsu sang Bunda baru berusia 2 tahun, laki-laki. Badannya sehat, pipinya juga tembem. Sedikit tak percaya ketika sang Bunda bertutur, ” Alhamdulillah, anak-anak semua sehat dan makannya tidak rewel. Asal ada nasi, sama garam atau kecap saja, anak-anak mau makan. Yang kecil ini, dari dulu makannya cuma sama garam saja. “

~~~

Malam menunjukkan pukul19.50 ketika aku dan seorang mbak baik berhasil menemukan rumahnya. Alhamdulillah, sang Bunda ketika itu berada di luar rumahnya. Kami yang kebingungan bertanya sana-sini kemudian melihatnya melambaikan tangan kepada kami. Kami berpapasan dengan seorang anak lelaki bertopi, kemudian sang Bunda memanggilnya, ” Ja’far sini dulu nak, ini kakak-kakak yang mau bantu Ja’far sekolah lagi. ” Ah Bunda, tuturmu itu menelisik ke dalam hatiku. Ja’far menyampaikan salam dan mencium tangan kami. Ja’far… santun benar sikapmu nak. Jauh dari perkiraanku tentang seorang anak malas bersekolah. Duh Ja’far, apa kamu semalu itu untuk pergi ke sekolah? Tapi kau harus sekolah nak; harus menamatkan SD dan SMPmu. Hidup di jaman ini tidak mudah nak, apalagi untuk orang-orang yang tidak genap pendidikan dasarnya. Ayo nak, bangkitkan semangat dan keberanianmu.

Kami mengikuti sang Bunda menuju rumahnya, sementara Ja’far berlalu, entah kemana. Hati-hati ya nak, kata Bundamu, lingkungan ini tak cukup ramah untuk anak-anak baik sepertimu. Sang Bunda masuk duluan. Aku sempat mencegah mbak baikku mengikutinya masuk, ” Tunggu dulu, kita belum dipersilakan dan tuan rumah yang paling tahu aurat rumahnya. ” Sambil menunggu dipersilakan, aku tergelitik menghitung-hitung lebar rumah sang Bunda; satu, dua, tiga… ah, tiga meter lebarnya.

Di dalam rupanya, ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, semuanya jadi satu saja. Ruang sekitar enam meter ke belakangnya di sekat di bagian tengah dengan tirai kain. Di bagian depan, tempat sang Bunda menemui kami, sedang berbaring si Bungsu dengan nyenyak. Ah, tampannya si Bungsu ini; kulitnya bersih dan putih, pipinya tembem. Percakapan kami bertiga, Alhamdulillah, tidak membuatnya terbangun, meski ia tidur tanpa alas sama sekali; langsung beralas ubin dan sebuah guling tipis untuk menyangga kepalanya.

Di balik tirai kain itu, Nurul kecil dan Zainab imut juga sudah tertidur, juga tanpa alas. Jangan terbangun ya nak…. nikmati tidurmu, jangan sampai percakapan orang-orang dewasa yang lelah oleh dunia ini meracuni pikiranmu. Tetap tidur ya, supaya besok pagi bisa pergi ke sekolah dengan tubuh segar.

Si Sulung Hamzah rupanya belum pulang dari bekerja. Sang Ayah? ” Abinya pergi tadi, mungkin ke mesjid. Ya nggak papa mbak, dari pada di rumah, anak-anak liyat Abinya nggak ada kerjaan, mending di mesjid aja Abinya. ” Ah Bunda… sepertinya berat sekali semua ini untukmu.

Lalu sang Bunda menunjukkan kepada kami, raport anak-anak buah hatinya; Hamzah, Ja’far, dan Nurul. Alhamdulillah, kalau Ja’far masih ada raport, kita bisa usahakan ada sekolah yang bisa menerima Ja’far sekolah lagi, apalagi raport kelas 4 dan 5-nya tidak ada merahnya.

Lalu ku buka raport Nurul kecil, hmm… banyak merahnya. Kenapa nak? apakah karena kau tak punya buku-bukunya? Atau tidak ada yang membantu belajarmu? Kau harus lebih bersemangat lagi nak. Anak baik sepertimu harus bisa membuat Bundamu bernafas lega melihat raportmu. Kau harus giat belajar nak, meski sendiri saja. Kau lihat sendiri bukan, Bundamu mungkin sibuk mengurusi si Bungsu.

Sang Bunda menunjukkan kitab-kitab yang dipelajari Ja’far di pondok. ” Ini juga lumayan mbak uangnya, makanya kalau Ja’far begini, saya bingung. ” Kitab-kitab bekertas menguning dengan tulisan Arab gundul. ” Kalau ditanya maunya apa, Ja’far itu mau ngapal Qur’an aja katanya mbak, tapi di pondok juga nggak boleh begitu sama ustadz di sana. Harus jadi ‘alim dulu katanya, punya ilmu dulu, baru ngapal Qur’an. Tapi Ja’far nggak mau; maunya ngapal Qur’an aja. ” Rasanya lemas demi mendengar alasan Ja’far tidak mau belajar. Bunda, beruntungnya engkau, buah hatimu sedemikian cintanya dengan Al Qur’an. Ah, tapi Ja’far harus dibuat mengerti, bahwa ia juga harus belajar Matematika, Ilmu Alam, Bahasa, Ilmu Sosial, Sejarah. Kalau dia mau begitu, insyaAllah ia akan jadi orang hebat.

Pukul 20.45, kembali kuyakinkan kepada sang Bunda, aku dan mbak baikku sudah bicara dengan pengurus yayasan tempat Nurul sekolah. Yayasan bisa mencarikan dana beasiswa untuk biaya buku Nurul. Jadi jangan khawatir Bunda, insyaAllah masih banyak jalan, asal kita berusaha dan banyak berdoa kepada Allah. Allah tidak mengantuk, tidak tidur, juga tidak lalai dari hamba-hambaNya; cicak saja punya rizkinya sendiri.

Pukul 20.55, meski tampak masih banyak yang harus dibicarakan, aku memilih untuk pamit, karena sudah malam. Bukan tidak mau berlama-lama, tapi mendengar cerita sang Bunda, aku dan mbak baikku tidak mau ambil resiko bertemu dengan gerombolan pemuda mabuk atau sakaw, yang kata sang Bunda memang mulai aksinya menjelang larut. ” Kalau sudah malam, yang mabuk-mabuk itu kadang gedor-gedor, ngajakin anak-anak saya. Saya ini dibilang terlalu berlebihan mbak. Orang-orang sini sering bilang, ” Gitu amat sama anak. Anak laki-laki ini, nggak akan hamil! “. Saya sih cuek aja pokoknya mbak, terserah orang lain, yang penting anak saya selamat. Begitu malam, langsung saya panggil, saya tarik pulang. Biarin orang lain bilang apa! ” Duh Bunda… semoga Allah menguatkanmu selalu.

Pukul 21.00 benar-benar melangkah keluar dari rumah sang Bunda. Di luar ternyata ada Hamzah, rupanya baru pulang kerja. Maaf ya dek, pasti kamu dari tadi menunggu di luar, tidak bisa masuk karena kami ini sedang bertamu. Sang Bunda memperkenalkan Hamzah kepada kami. Pemuda yang santun, demikian kesan yang nampak. Semoga memang begitu ya dek. Kau ini jadi harapan Bundamu. Jangan khawatir ya dek, akan kami pikirkan bagaimana caranya kau bisa mengikuti UN yang kau tinggal karena tak ada biaya. Jangan menyerah ya… dan jaga diri baik-baik.

Aku dan mbak baikku berjalan buru-buru ke jalan raya tempat kami bisa naik angkot. Sepanjang jalan itu, tidak satu dua rumah-rumah kokoh berpagar tinggi. Kata sang Bunda, kebanyakan itu rumah orang-orang keturunan. Lalu aku dibuat terpana oleh sebuah rumah besar berpagar tembok. Pagarnya terbuka, sehingga aku bisa melihat halaman yang luas dan banyaknya mobil yang terparkir di sana. Lalu mataku tertuju pada sebuah papan tulisan di dinding pagarnya, dekat tempat berdiri pak satpam, TERIMA KOS. Oh, tempat kos ya? Mewah sekali. Memang siapa yang kos di situ? Satu, dua, ternyata ada beberapa tempat seperti itu.

~~~

Ya, ada angkot! Alhamdulillah, sempat terpikir semalam itu sudah tidak ada angkot lagi. Penumpang masih banyak yang turun naik, sementara aku masih sibuk dengan lintasan-lintasan di kepalaku.

Masih saja satu yang terus terngiang, kesenjangan yang menyebalkan! Setiabudi, kawasan segitiga emas, Sudirman, Kuningan, Gatot Subroto. Berpuluh berderet gedung-gedung perkantoran, gagah dengan lantainya yang bertumpuk 20, 30, 40, 50, atau lebih tinggi lagi; tampak sombongnya hendak mencakar langit.

Kisah sang Bunda, ku yakin adalah fenomena gunung es; yang Allah tampakkan pada kami mungkin baru satu ini. Ada di Setiabudi ini, di balik gedung-gedung angkuh itu, juga di sebalik gedung tempatku menjadi kuli kantoran ini, di balik jalanan yang berlalu lalang mobil-mobil mewah nan mengkilap, di balik deru putaran mesin kapitalisme; ah… ada banyak rumah-rumah yang jauh lebih kecil dari rumah sang Bunda, rumah-rumah berdinding triplek, 3×3, hanya cukup untuk sekedar berbaring, di selusur gang-gang kecil.

Andai saja aku tahu siapa orangnya dan andai saja aku cukup berani, pasti aku akan mendatangi bapak pejabat kelurahan itu, yang mungkin nuraninya tertinggal di lemari kamarnya ketika sambil mencoreti deretan nama-nama itu berkata, ” Ah, ini sih bukan orang miskin. Ini juga nggak lah, kan ada motor buat ngojeg. Ini juga bukan. Malu dong, masak Setiabudi, kawasan Segitiga Emas, orang miskinnya banyak. “

Apa kalau terlihat naik motor, seseorang dikatakan kaya? Mungkin ya, mungkin tidak. Motor buat seorang tukang ojeg tentu saja bukan pernik kemewahan. Apalagi jaman sekarang jadi ojeg tidak mensyaratkan punya motor, banyak orang-orang kaya yang mempunyai motor banyak jadi bandar ojeg. Mau jadi tukang ojeg, bawa badan saja, motornya ada, tinggal setoran saja ke pemilik ojeg. Walhasil, yang dibawa ke rumah untuk keluarga pun lebih sering tidak menentu.

Masih teringat beberapa bulan yang lalu, kami harus menyiapkan dokumen, foto-foto, proposal detail, untuk menyakinkan sebuah BMT untuk mau menyelenggarakan pengobatan gratis di Setiabudi sini. Di akhir acara, tak tahu harus menanggapi dengan geli atau sedih, melihat para relawannya yang terheran-heran, ternyata Setiabudi….

Hari ini, berjalan kaki ke kantor, melewati rumah-rumah petak kontrakan itu; melihat ibu-ibu muda duduk-duduk saja di ambang pintu; anak-anak kecil bermain tanpa alas kaki dengan mainan seadanya; seorang anak yang dipukul ibunya sampai meraung tangisnya, juga kata-kata kasar itu–duh, nak manis, jangan menangis begitu, ibumu tampak hendak semakin marah; mungkinkah… mungkinkah… ada berjuta kisah serupa dengan kisah sang Bunda di balik wajah-wajah itu.

~~~

Lebih dari semuanya, hari ini aku kembali mengajarkan kepada hatiku bahwa kita ini tidak boleh lemah dan bermalas-malasan; kita ini harus menjadi besar, kuat, berdaya, dan gemar berbuat. Bukan sekedar agar tidak menjadi beban masyarakat, tapi yang pertama dan terutama, agar kita ini cukup perkasa untuk membawakan kebaikan bagi orang lain.

Jadi… untuk anda semua, selamat berjuang teman!

~~~~~~~
special buat mbak baikku [kalau sempat baca]:
Semoga Allah menghadiahkan kelembutan dunia kepadamu karena lembutnya hatimu kepada dunia.

special buat mbak Kosi:
Masih inget SMSku kan mbak? Juga target pengurus forsimpta ba’da Ramadhan ini?  Seuntai doa, agar Allah Mengaturnya itu adalah mbak Kosi dan mbak Yana, supaya semakin perkasa membawa kebaikan untuk umat.

Juli 20, 2006 Ditulis oleh martsiska | warna-warni | | 1 Komentar