<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mart Siska Anggraeni</title>
	<atom:link href="http://martsiska.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://martsiska.wordpress.com</link>
	<description>Menulis untuk K E A B A D I A N</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Jul 2006 07:45:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='martsiska.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7e82041390f2cb9ee2c038cb47d39d74?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mart Siska Anggraeni</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Insan Rabbani</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/insan-rabbani/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/insan-rabbani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 07:45:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/insan-rabbani/</guid>
		<description><![CDATA[Insan Rabbani: tetap belajar, tetap mengajarkan, Al Quran&#8230;&#8221; Akan tetapi (dia berkata), &#8216;Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.&#8217; &#8220;  QS. Ali &#8216;Imran [3]: 79
Insan Rabbani; mengenakan pakaian kehidupan dengan kesadaran; mengetahui ia tidak datang dengan tiba-tiba; memahami kepada siapa ia akan kembali; mengenali dimana rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=10&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Insan Rabbani: tetap belajar, tetap mengajarkan, Al Quran&#8230;<br />&#8221; Akan tetapi (dia berkata), &#8216;Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.&#8217; &#8220;  QS. Ali &#8216;Imran [3]: 79</p>
<p>Insan Rabbani; mengenakan pakaian kehidupan dengan kesadaran; mengetahui ia tidak datang dengan tiba-tiba; memahami kepada siapa ia akan kembali; mengenali dimana rumah keabadiannya; menyadari ia tidak diciptakan untuk sekedar makan dan minum, bersenda gurau, bermain-main, kemudian kembali menjadi tanah;<br />
&#8221; Katakanlah, &#8216;Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku pada jalan yang lurus, (yaitu) jalan agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.&#8217;  Katakanlah, &#8216;Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).&#8217;  Katakanlah, &#8216;Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?&#8217; &#8221; QS. Al An&#8217;am [6] : 161-164</p>
<p>Insan Rabbani: fitrahnya adalah iman kepada Allah swt; lapar dan haus sehingga menemukan Allah lantas beriman kepadaNya; tidak akan menemukan ketenangannya kecuali berlindung kepadaNya; <br />&#8221; Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.  Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. &#8221; QS. Ar Ruum [30] : 30</p>
<p>Insan Rabbani; seperti seorang budak dengan satu tuan saja; menerima perintah dari satu tuan saja;<br />
&#8221; Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja).  Adakah kedua budak itu sama halnya? &#8221; QS. Az Zumar [39] : 29<br />
Insan Rabbani; bukanlah manusia malaikat yang bebas cacat; adalah manusia yang suka bertaubat; merasa menyesal jika berbuat salah; segera kembali kepada Allah jika berbuat maksiat; kadang dibayang syahwat haram lalu meninggalkannya karena malu kepada Allah; kadang dibayang harta haram lalu menolak dengan qana&#8217;ah&#8211;merasa puas; kadang dibayang kezhaliman lalu iman melarangnya dan sibuk mengingat Allah; kadang ia mampu di atas lawannya tapi tak serta merta memuaskan dendam;<br />&#8221; Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?  Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. &#8221; QS. Ali &#8216;Imran [3] : 135</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=10&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/insan-rabbani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cobaan</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/cobaan/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/cobaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 07:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mutiara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/cobaan/</guid>
		<description><![CDATA[~Ibnul Qayyim, Shaidul Khatir~
Cobaan terberat seseorang adalah jika ia tak merasa dirinya sedang mendapatkan cobaan, terlebih lagi jika ia sangat bergembira dengan cobaan itu. Cobaan pertama adalah berpaling dari kebenaran akibat kesibukannya dengan sesama makhluk. Adapun cobaan yang paling ringan bagi mereka adalah hilangnya kenikmatan dalam bermunajat dan kelezatan beribadah, kecuali bagi para lelaki dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=9&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><font size="3">~Ibnul Qayyim, Shaidul Khatir~</font></p>
<p><font size="3">Cobaan terberat seseorang adalah jika ia tak merasa dirinya sedang mendapatkan cobaan, terlebih lagi jika ia sangat bergembira dengan cobaan itu. Cobaan pertama adalah berpaling dari kebenaran akibat kesibukannya dengan sesama makhluk. Adapun cobaan yang paling ringan bagi mereka adalah hilangnya kenikmatan dalam bermunajat dan kelezatan beribadah, kecuali bagi para lelaki dan wanita yang benar-benar beriman, mereka tidak merasakan hal-hal tersebut. Allah menjaga mereka. Keadaan batin mereka seperti lahirnya, bahkan lebih jernih lagi. Apa yang tersembunyi dari diri mereka tidak berbeda dari penampakan mereka, bahkan lebih indah lagi. Semangat mereka pun tinggi laksana bintang, bahkan jauh lebih tinggi.</font></p>
<p><font size="3">Jika dikenal mereka menutupi diri mereka. Jika tampak kemuliaan mereka, malah mengingkarinya. Ketika manusia hanyut dalam kelalaiannya, mereka justru larut dalam kesadaran dan perenungannya. Mereka dicintai ole setiap jengkal bumi ini, sedang malaikat-malaikat langit membanggakannya. Kita memohonkan taufik Allah bagi para pengikut mereka, sambil kita memohon kepada Allah agar bisa mengikuti jejaknya.</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=9&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/cobaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Dalam Hati</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/di-dalam-hati/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/di-dalam-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 07:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mutiara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/di-dalam-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam hati ini berantakan dan tidak akan terhimpun menyatu kembali kecuali menghadap Allah.
Di dalam hati ada keberingasan dan tidak akan dapat dihilangkan kecuali dengan turut mematuhi Allah.
Di dalam hati ada duka cita dan tidak akan sirna kecuali bersuka cita dengan ma&#8217;rifatullah dan tulus bergaul denganNya.
Di dalam hati ada kegelisahan dan tidak akan pernah tenang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=8&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font color="#3366ff" face="Verdana">Di dalam hati ini berantakan dan tidak akan terhimpun menyatu kembali kecuali menghadap Allah.</font></p>
<p><font color="#3366ff" face="Verdana">Di dalam hati ada keberingasan dan tidak akan dapat dihilangkan kecuali dengan turut mematuhi Allah.</font></p>
<p><font color="#3366ff" face="Verdana">Di dalam hati ada duka cita dan tidak akan sirna kecuali bersuka cita dengan ma&#8217;rifatullah dan tulus bergaul denganNya.</font></p>
<p><font color="#3366ff" face="Verdana">Di dalam hati ada kegelisahan dan tidak akan pernah tenang kecuali menyatu dengan Allah dan lari kembali kepadaNya.</font></p>
<p><font color="#3366ff" face="Verdana">Di dalam hati ada bara api kesedihan yang tidak akan dapat dipadamkan kecuali rela dengan perintah dan larangan Allah, qadha dan qadarNya, dan menggantungkan kesabaran hingga datang waktu perjumpaan denganNya.</font></p>
<p><font color="#3366ff" face="Verdana">Di dalam hati ada kebutuhan yang tidak akan dapat tertutupi kecuali dengan mencintai Allah, menggantungkan diri kepadaNya, terus berdzikir mengingatNya, benar-benar tulus ikhlas kepadaNya.  Andai kata dunia dan semua isinya diberikan maka selamanya tidak akan dapat menutupi kebutuhan itu.</font></p>
<p><font color="#3366ff" face="Verdana">~~~Ibnul Qayyim~~~</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=8&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/di-dalam-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaca Film</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kaca-film/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kaca-film/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 07:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kaca-film/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana jika bos kita selalu datang lebih pagi dan pulang lebih akhir dibandingkan kita? Kemudian ruangannya ada di tengah-tengah ruangan karyawan dan menggunakan kaca film (kaca riben) sehingga ia bebas melihat ke arah kita, sementara kita tidak mengetahuinya. Sementara kita tahu pasti karakternya adalah selalu memperhatikan&#8211;kalau tidak bisa dikatakan mengawasi&#8211;kinerja setiap karyawannya. Sebenarnya sulit juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=7&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2">Bagaimana jika bos kita selalu datang lebih pagi dan pulang lebih akhir dibandingkan kita? Kemudian ruangannya ada di tengah-tengah ruangan karyawan dan menggunakan kaca film (kaca riben) sehingga ia bebas melihat ke arah kita, sementara kita tidak mengetahuinya. Sementara kita tahu pasti karakternya adalah selalu memperhatikan&#8211;kalau tidak bisa dikatakan mengawasi&#8211;kinerja setiap karyawannya. Sebenarnya sulit juga memastikan bahwa sang bos ada di ruangan atau tidak, karena kebiasaannya yang datang awal dan pulang akhir, tapi tak seorang pun berani ambil resiko berasumsi bahwa sang bos bisa jadi sedang tidak berada di ruangannya&#8211;tidak sedang mengawasi dengan teliti pekerjaan karyawannya. Semua tampak hebat dan sempurna dengan bantuan si kaca film.</p>
<p></font></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><font size="2">Efeknya apa ya kira-kira? Yang jelas semua karyawan pasti berpikir beberapa kali atau paling tidak sesama berkelesik bisik, &#8220;Eh, pak bos ada nggak?&#8221;, setiap kali hendak mangkir. Walhasil, kinerja karyawan lebih terjamin bukan? Semua karyawan pasti termotivasi untuk lebih bisa menahan diri ketika tergoda melenceng dari jalur kerjanya. Sepertinya tampak nyaris hebat dan sempurna dengan bantuan si kaca film.</font></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><font size="2"><br />
Jika dengan atasan, kita bisa saja seperti itu, kira-kira bagaimana selayaknya kita kepada Allah?  Bukan saja kaca film, tetapi </font><font size="2">Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Hidup kekal lagi terus menerus Mengurus mahklukNya, tidak mengantuk, tidak pula tidur. Diajarkan kepada kita oleh Nabi kecintaan kita, Muhammad saw, hendaknya kita menyembah Allah seakan kita ini melihat Allah lalu kalaulah mata tak mampu melakukannya sesungguhnya Allah itu selalu melihat kita. Ini lah yang Nabi kita ajarkan kepada kita tentang IHSAN.<br />
</font></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><font size="2"><br />
Daun mana yang gugur tanpa Allah Mengetahuinya? Dahan mana, ranting yang mana, yang Allah tidak mengetahui berapa banyak lembar daun padanya? Laut mana yang Allah alpa dari jumlah ikan-ikan di dalamnya? Rongga dada manusia yang mana yang Allah ragu akan banyaknya udara yang dapat memenuhinya? Perbuatan</font><font size="2"> yang mana, yang baik kah atau yang buruk kah, yang bisa disembunyikan dari ketelitianNya? </p>
<p>&#8221; Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. &#8221; QS. Al An&#8217;am [6] : 60</p>
<p>Benar-benar kesialan bukan, bagi orang-orang yang gagal menemukan pengawasan Allah dalam hidupnya, padahal Allah itu lebih dekat dibandingkan urat lehernya. &#8221; Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. &#8221; Al Baqarah [2] : 186. Kemudian orang-orang itu berlaku sekehendak hatinya di muka bumi.</p>
<p>Geli ya, sekilas mencermati gaya para foto model di depan kamera sang fotografer? Bergaya sedemikian manisnya demi jepretan kamera sang fotografer. Sebenarnya kita ini tidak kalah keren dengan mereka. Kalau mereka &#8216;wajib&#8217; bergaya sekian detik untuk bidikan si juru foto, kita ini kalau benar yakin akan pengawasan Allah, wajib bagi kita bergaya full-manis di hadapan kamera Allah, tidak tanggung-tanggung: 7 x 24 jam! Nah, tugas besar kita hanya satu kok, bertarung dengan hawa nafsu sendiri dan godaan syetan la&#8217;natullah. Kalau orang Sunda bilangnya, pakuat-kuat; pasabar-sabar, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih sabar. Eh, jangan salah, syetan juga luar biasa sabarnya menanti detik-detik tergelincirnya kita. Na&#8217;udzubillah.</p>
<p>Coba kita bayangkan, kalau kita sungguh tulus bergaul dengan Allah, menikmati kebersamaanNya, dan berbahagia atas pengawasanNya, kapan kita berani menjadi pembangkang di hadapanNya? Rasanya tidak akan pernah bukan? Sementara kita juga meyakini bahwa hanya ada dua hal menjadi pilihan kita di ujung jalan kita, kenikmatan surgaNya atau adzab nerakaNya.</p>
<p>Tampak klise memang, meminta kita berubah perilaku dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, tetapi ini benar adanya. Silakan bertanya kepada diri sendiri dan siapkan jawaban yang jujur.</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata bahwa hawa nafsu manusia itu layaknya air, akan selalu mencari tempat yang lebih rendah. Setiap tetes air, dari mana pun gunung mata airnya, mengetahui bahwa ia harus pergi ke laut. Tetapi air bisa diangkat ke atas&#8211;manusia telah menemukan caranya&#8211;dengan bantuan pompa. Ini juga seharusnya bagaimana manusia memperlakukan dirinya; ia harus menemukan bagaimana mengangkat dirinya dari kerendahan menurutkan hawa nafsu. Janji surga dan neraka adalah salah satu pompanya.</p>
<p>Jika kaca film telah bisa menginspirasikan sebuah motivasi kerja, bukankah Allah Memiliki lebih dari sekedar kaca film untuk memotivasi kita? Jangan setengah-setengah menjadi baik; hati kita tahu Allah itu ada; kita pun yakin Allah Melihat kita dengan teliti!</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=7&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kaca-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah sang Bunda</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kisah-sang-bunda/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kisah-sang-bunda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 07:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
				<category><![CDATA[warna-warni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kisah-sang-bunda/</guid>
		<description><![CDATA[Hamzah, begitu gagahnya nama si putra Sulung; mengenyam pendidikan sampai kelas 3 SMP saja. Itu pun tanpa mengikuti UN (Ujian Nasional)-nya karena alasan yang boleh dibilang klasik&#8211;tidak ada uang untuk membayar UN-nya. Suatu ketika sang Bunda menemukan ada pada si Sulung ini beberapa botol minuman keras. Kemudian si Sulung menjelaskan itu milik teman-temannya dan ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=6&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="3">Hamzah, begitu gagahnya nama si putra Sulung; mengenyam pendidikan sampai kelas 3 SMP saja. Itu pun tanpa mengikuti UN (Ujian Nasional)-nya karena alasan yang boleh dibilang klasik&#8211;tidak ada uang untuk membayar UN-nya. Suatu ketika sang Bunda menemukan ada pada si Sulung ini beberapa botol minuman keras. Kemudian si Sulung menjelaskan itu milik teman-temannya dan ia sendiri tidak pernah menyentuhnya. Trenyuh hati sang Bunda demi doanya yang senantiasa dilantunkan, &#8221; Ya Allah, jagalah anak-anakku dari keterjerumusan. Jika terjadi sesuatu pada anakku, aku tidak mau mendengar dari orang lain ya Allah. Biarkan aku sendiri yang mengetahuinya. &#8221; Kini si Sulung yang tidak sempat mengikuti UN telah bekerja mengandalkan kekuatan tenaganya di sebuah ITC; kalau sakit dan tidak masuk, tentu saja tidak ada penghasilan yang bisa diperoleh.</p>
<p>Muhammad Ja&#8217;far, putra kedua sang Bunda. Maret 2005 yang lalu, meninggalkan bangku sekolah semester 2 di kelas 5, lalu masuk ke pondok di daerah Parung, Bogor. Kasihan si Ja&#8217;far yang merasa malu ke sekolah karena sering menunggak bayaran sekolah. Di pondok dia pun tak betah. Ah, ternyata si kecil Ja&#8217;far yang usianya baru menapaki awal belasannya ingin benar menjadi hafidh saja; menghafal Qur&#8217;an; tak mau mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Ustadz di pondoknya rupanya tidak bisa mengerti ini, juga tidak bisa memberi pengertian kepada si kecil Ja&#8217;far. Ja&#8217;far harus mempelajari kitab-kitab berkertas menguning dengan tulisan Arab yang gundul. Rupanya Ja&#8217;far tidak menyukainya dan memilih kembali ke rumah orang tuanya di bilangan Kuningan, lalu menganggur saja beberapa bulan ini. Sang Bunda khawatir benar dan berulang kali berpesan padanya, &#8221; Jangan sampai ikut-ikutan jadi joki ya nak&#8230; &#8220;. Di Setiabudi-Kuningan sini, sebelum jam 10 pagi atau sore sebelum waktu bebas 3-in-1, berderet-deret anak-anak belasan tahun usia SD, SMP, SMA menawarkan diri menjadi joki supaya mobil-mobil mengkilap itu bisa menerobos ke jalanan Sudirman.</p>
<p>Nurul Safiyyah, putri ketiga yang baru saja naik kelas 4. Sementara teman-temannya telah memiliki buku paket untuk setahun ke depan, Nurul kecil belum juga memilikinya sampai hari Senin kemarin&#8211;hari pertama masuk sekolahnya. Rp 220.000,00 belum bisa disiapkan sang Bunda yang ibu rumah tangga saja, sementara sang Ayah belum bisa dibilang memiliki pekerjaan; masih serabutan. Sementara uang hasil keringat si Sulung harus dibagi untuk ini dan itu. Nurul kecil sering menolak uang saku dari sang Bunda, &#8221; Umi, kalau nggak ada nasi di rumah, Nurul nggak usah diberi uang saku, untuk nasi saja&#8230; &#8221; Lalu sang Bunda berkata kepadaku, &#8221; Mbak mungkin nggak percaya anak sekecil itu bisa berkata begitu, tapi ini bener mbak. Nanti kalau pas dia bangun, mbak bisa tanya sendiri. &#8221; Ah, rupanya Nurul kecil sudah tidur dari sore.</p>
<p>Zainab. Nama yang cantik ini adalah milik putri keempat sang Bunda. Baru masuk SD tahun ini. Alhamdulillah bisa masuk SD Negeri, jadi si imut Zainab bebas dari SPP. Ya&#8230; ternyata sekolah itu tidak hanya butuh uang SPP, Zainab imut harus membeli seragam dan buku-buku. Untuk seragam Zainab tahun ini, sang Ayah meminjam uang dari kenalannya. Ah, jangan sampai Zainab tidak sekolah karena tidak punya seragam.</p>
<p>Bungsu sang Bunda baru berusia 2 tahun, laki-laki. Badannya sehat, pipinya juga tembem. Sedikit tak percaya ketika sang Bunda bertutur, &#8221; Alhamdulillah, anak-anak semua sehat dan makannya tidak rewel. Asal ada nasi, sama garam atau kecap saja, anak-anak mau makan. Yang kecil ini, dari dulu makannya cuma sama garam saja. &#8220;</p>
<p>~~~</p>
<p>Malam menunjukkan pukul19.50 ketika aku dan seorang mbak baik berhasil menemukan rumahnya. Alhamdulillah, sang Bunda ketika itu berada di luar rumahnya. Kami yang kebingungan bertanya sana-sini kemudian melihatnya melambaikan tangan kepada kami. Kami berpapasan dengan seorang anak lelaki bertopi, kemudian sang Bunda memanggilnya, &#8221; Ja&#8217;far sini dulu nak, ini kakak-kakak yang mau bantu Ja&#8217;far sekolah lagi. &#8221; Ah Bunda, tuturmu itu menelisik ke dalam hatiku. Ja&#8217;far menyampaikan salam dan mencium tangan kami. Ja&#8217;far&#8230; santun benar sikapmu nak. Jauh dari perkiraanku tentang seorang anak malas bersekolah. Duh Ja&#8217;far, apa kamu semalu itu untuk pergi ke sekolah? Tapi kau harus sekolah nak; harus menamatkan SD dan SMPmu. Hidup di jaman ini tidak mudah nak, apalagi untuk orang-orang yang tidak genap pendidikan dasarnya. Ayo nak, bangkitkan semangat dan keberanianmu.</p>
<p>Kami mengikuti sang Bunda menuju rumahnya, sementara Ja&#8217;far berlalu, entah kemana. Hati-hati ya nak, kata Bundamu, lingkungan ini tak cukup ramah untuk anak-anak baik sepertimu. Sang Bunda masuk duluan. Aku sempat mencegah mbak baikku mengikutinya masuk, &#8221; Tunggu dulu, kita belum dipersilakan dan tuan rumah yang paling tahu aurat rumahnya. &#8221; Sambil menunggu dipersilakan, aku tergelitik menghitung-hitung lebar rumah sang Bunda; satu, dua, tiga&#8230; ah, tiga meter lebarnya.</p>
<p>Di dalam rupanya, ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, semuanya jadi satu saja. Ruang sekitar enam meter ke belakangnya di sekat di bagian tengah dengan tirai kain. Di bagian depan, tempat sang Bunda menemui kami, sedang berbaring si Bungsu dengan nyenyak. Ah, tampannya si Bungsu ini; kulitnya bersih dan putih, pipinya tembem. Percakapan kami bertiga, Alhamdulillah, tidak membuatnya terbangun, meski ia tidur tanpa alas sama sekali; langsung beralas ubin dan sebuah guling tipis untuk menyangga kepalanya.</p>
<p>Di balik tirai kain itu, Nurul kecil dan Zainab imut juga sudah tertidur, juga tanpa alas. Jangan terbangun ya nak&#8230;. nikmati tidurmu, jangan sampai percakapan orang-orang dewasa yang lelah oleh dunia ini meracuni pikiranmu. Tetap tidur ya, supaya besok pagi bisa pergi ke sekolah dengan tubuh segar.</p>
<p>Si Sulung Hamzah rupanya belum pulang dari bekerja. Sang Ayah? &#8221; Abinya pergi tadi, mungkin ke mesjid. Ya nggak papa mbak, dari pada di rumah, anak-anak liyat Abinya nggak ada kerjaan, mending di mesjid aja Abinya. &#8221; Ah Bunda&#8230; sepertinya berat sekali semua ini untukmu.</p>
<p>Lalu sang Bunda menunjukkan kepada kami, raport anak-anak buah hatinya; Hamzah, Ja&#8217;far, dan Nurul. Alhamdulillah, kalau Ja&#8217;far masih ada raport, kita bisa usahakan ada sekolah yang bisa menerima Ja&#8217;far sekolah lagi, apalagi raport kelas 4 dan 5-nya tidak ada merahnya.</p>
<p>Lalu ku buka raport Nurul kecil, hmm&#8230; banyak merahnya. Kenapa nak? apakah karena kau tak punya buku-bukunya? Atau tidak ada yang membantu belajarmu? Kau harus lebih bersemangat lagi nak. Anak baik sepertimu harus bisa membuat Bundamu bernafas lega melihat raportmu. Kau harus giat belajar nak, meski sendiri saja. Kau lihat sendiri bukan, Bundamu mungkin sibuk mengurusi si Bungsu.</p>
<p>Sang Bunda menunjukkan kitab-kitab yang dipelajari Ja&#8217;far di pondok. &#8221; Ini juga lumayan mbak uangnya, makanya kalau Ja&#8217;far begini, saya bingung. &#8221; Kitab-kitab bekertas menguning dengan tulisan Arab gundul. &#8221; Kalau ditanya maunya apa, Ja&#8217;far itu mau ngapal Qur&#8217;an aja katanya mbak, tapi di pondok juga nggak boleh begitu sama ustadz di sana. Harus jadi &#8216;alim dulu katanya, punya ilmu dulu, baru ngapal Qur&#8217;an. Tapi Ja&#8217;far nggak mau; maunya ngapal Qur&#8217;an aja. &#8221; Rasanya lemas demi mendengar alasan Ja&#8217;far tidak mau belajar. Bunda, beruntungnya engkau, buah hatimu sedemikian cintanya dengan Al Qur&#8217;an. Ah, tapi Ja&#8217;far harus dibuat mengerti, bahwa ia juga harus belajar Matematika, Ilmu Alam, Bahasa, Ilmu Sosial, Sejarah. Kalau dia mau begitu, insyaAllah ia akan jadi orang hebat.</p>
<p>Pukul 20.45, kembali kuyakinkan kepada sang Bunda, aku dan mbak baikku sudah bicara dengan pengurus yayasan tempat Nurul sekolah. Yayasan bisa mencarikan dana beasiswa untuk biaya buku Nurul. Jadi jangan khawatir Bunda, insyaAllah masih banyak jalan, asal kita berusaha dan banyak berdoa kepada Allah. Allah tidak mengantuk, tidak tidur, juga tidak lalai dari hamba-hambaNya; cicak saja punya rizkinya sendiri.</p>
<p>Pukul 20.55, meski tampak masih banyak yang harus dibicarakan, aku memilih untuk pamit, karena sudah malam. Bukan tidak mau berlama-lama, tapi mendengar cerita sang Bunda, aku dan mbak baikku tidak mau ambil resiko bertemu dengan gerombolan pemuda mabuk atau sakaw, yang kata sang Bunda memang mulai aksinya menjelang larut. &#8221; Kalau sudah malam, yang mabuk-mabuk itu kadang gedor-gedor, ngajakin anak-anak saya. Saya ini dibilang terlalu berlebihan mbak. Orang-orang sini sering bilang, &#8221; Gitu amat sama anak. Anak laki-laki ini, nggak akan hamil! &#8220;. Saya sih cuek aja pokoknya mbak, terserah orang lain, yang penting anak saya selamat. Begitu malam, langsung saya panggil, saya tarik pulang. Biarin orang lain bilang apa! &#8221; Duh Bunda&#8230; semoga Allah menguatkanmu selalu.</p>
<p>Pukul 21.00 benar-benar melangkah keluar dari rumah sang Bunda. Di luar ternyata ada Hamzah, rupanya baru pulang kerja. Maaf ya dek, pasti kamu dari tadi menunggu di luar, tidak bisa masuk karena kami ini sedang bertamu. Sang Bunda memperkenalkan Hamzah kepada kami. Pemuda yang santun, demikian kesan yang nampak. Semoga memang begitu ya dek. Kau ini jadi harapan Bundamu. Jangan khawatir ya dek, akan kami pikirkan bagaimana caranya kau bisa mengikuti UN yang kau tinggal karena tak ada biaya. Jangan menyerah ya&#8230; dan jaga diri baik-baik.</p>
<p>Aku dan mbak baikku berjalan buru-buru ke jalan raya tempat kami bisa naik angkot. Sepanjang jalan itu, tidak satu dua rumah-rumah kokoh berpagar tinggi. Kata sang Bunda, kebanyakan itu rumah orang-orang keturunan. Lalu aku dibuat terpana oleh sebuah rumah besar berpagar tembok. Pagarnya terbuka, sehingga aku bisa melihat halaman yang luas dan banyaknya mobil yang terparkir di sana. Lalu mataku tertuju pada sebuah papan tulisan di dinding pagarnya, dekat tempat berdiri pak satpam, TERIMA KOS.  Oh, tempat kos ya? Mewah sekali.  Memang siapa yang kos di situ?  Satu, dua, ternyata ada beberapa tempat seperti itu.</p>
<p>~~~</p>
<p>Ya, ada angkot! Alhamdulillah, sempat terpikir semalam itu sudah tidak ada angkot lagi. Penumpang masih banyak yang turun naik, sementara aku masih sibuk dengan lintasan-lintasan di kepalaku.</p>
<p>Masih saja satu yang terus terngiang, kesenjangan yang menyebalkan! Setiabudi, kawasan segitiga emas, Sudirman, Kuningan, Gatot Subroto. Berpuluh berderet gedung-gedung perkantoran, gagah dengan lantainya yang bertumpuk 20, 30, 40, 50, atau lebih tinggi lagi; tampak sombongnya hendak mencakar langit.</p>
<p>Kisah sang Bunda, ku yakin adalah fenomena gunung es; yang Allah tampakkan pada kami mungkin baru satu ini. Ada di Setiabudi ini, di balik gedung-gedung angkuh itu, juga di sebalik gedung tempatku menjadi kuli kantoran ini, di balik jalanan yang berlalu lalang mobil-mobil mewah nan mengkilap, di balik deru putaran mesin kapitalisme; ah&#8230; ada banyak rumah-rumah yang jauh lebih kecil dari rumah sang Bunda, rumah-rumah berdinding triplek, 3&#215;3, hanya cukup untuk sekedar berbaring, di selusur gang-gang kecil.</p>
<p>Andai saja aku tahu siapa orangnya dan andai saja aku cukup berani, pasti aku akan mendatangi bapak pejabat kelurahan itu, yang mungkin nuraninya tertinggal di lemari kamarnya ketika sambil mencoreti deretan nama-nama itu berkata, &#8221; Ah, ini sih bukan orang miskin. Ini juga nggak lah, kan ada motor buat ngojeg. Ini juga bukan. Malu dong, masak Setiabudi, kawasan Segitiga Emas, orang miskinnya banyak. &#8220;</p>
<p>Apa kalau terlihat naik motor, seseorang dikatakan kaya? Mungkin ya, mungkin tidak. Motor buat seorang tukang ojeg tentu saja bukan pernik kemewahan. Apalagi jaman sekarang jadi ojeg tidak mensyaratkan punya motor, banyak orang-orang kaya yang mempunyai motor banyak jadi bandar ojeg. Mau jadi tukang ojeg, bawa badan saja, motornya ada, tinggal setoran saja ke pemilik ojeg. Walhasil, yang dibawa ke rumah untuk keluarga pun lebih sering tidak menentu.</p>
<p>Masih teringat beberapa bulan yang lalu, kami harus menyiapkan dokumen, foto-foto, proposal detail, untuk menyakinkan sebuah BMT untuk mau menyelenggarakan pengobatan gratis di Setiabudi sini. Di akhir acara, tak tahu harus menanggapi dengan geli atau sedih, melihat para relawannya yang terheran-heran, ternyata Setiabudi&#8230;.</p>
<p>Hari ini, berjalan kaki ke kantor, melewati rumah-rumah petak kontrakan itu; melihat ibu-ibu muda duduk-duduk saja di ambang pintu; anak-anak kecil bermain tanpa alas kaki dengan mainan seadanya; seorang anak yang dipukul ibunya sampai meraung tangisnya, juga kata-kata kasar itu&#8211;duh, nak manis, jangan menangis begitu, ibumu tampak hendak semakin marah; mungkinkah&#8230; mungkinkah&#8230; ada berjuta kisah serupa dengan kisah sang Bunda di balik wajah-wajah itu.</p>
<p>~~~</p>
<p>Lebih dari semuanya, hari ini aku kembali mengajarkan kepada hatiku bahwa kita ini tidak boleh lemah dan bermalas-malasan; kita ini harus menjadi besar, kuat, berdaya, dan gemar berbuat. Bukan sekedar agar tidak menjadi beban masyarakat, tapi yang pertama dan terutama, agar kita ini cukup perkasa untuk membawakan kebaikan bagi orang lain.</p>
<p>Jadi&#8230; untuk anda semua, </font><font size="3"><font size="5">selamat berjuang teman!</p>
<p>~~~~~~~<br />
<font size="2">special buat mbak baikku [kalau sempat baca]:<br />
Semoga Allah menghadiahkan kelembutan dunia kepadamu karena lembutnya hatimu kepada dunia.</p>
<p>special buat mbak Kosi:<br />
Masih inget SMSku kan mbak? Juga target pengurus forsimpta ba&#8217;da Ramadhan ini?  Seuntai doa, agar Allah Mengaturnya itu adalah mbak Kosi dan mbak Yana, supaya semakin perkasa membawa kebaikan untuk umat.</font></font></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=6&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/kisah-sang-bunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Boomerang</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/boomerang/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/boomerang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 07:38:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/boomerang/</guid>
		<description><![CDATA[Bumerang atau Boomerang, pernah tahu ini kan? Boomerang adalah sebuah kelompok musik rock asal Surabaya yang resmi berdiri 8 Mei 1994; bertepatan dengan masa-masa aku menanti kelulusan SD-ku di Malang, kampung halaman. Apakah aku termasuk penggemar beratnya semenjak mula mereka berkiprah di blantika musik Indonesia? Mungkin akan nyaris seru jalan hidupku jika demikian adanya. Sayangnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=5&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2">Bumerang atau Boomerang, pernah tahu ini kan? <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Boomerang_%28band%29">Boomerang</a> adalah sebuah kelompok musik rock asal Surabaya yang resmi berdiri 8 Mei 1994; bertepatan dengan masa-masa aku menanti kelulusan SD-ku di Malang, kampung halaman. Apakah aku termasuk penggemar beratnya semenjak mula mereka berkiprah di blantika musik Indonesia? Mungkin akan nyaris seru jalan hidupku jika demikian adanya. Sayangnya, musik rock sama sekali bukan gayaku, kecuali lagu It&#8217;s My life-nya Bon Jovi dan We Are The Champion-nya Queen.</font></p>
<p><font size="2">Pernah dengar bumerang yang lain kan?  Yap, benar.  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bumerang">Bumerang</a> adalah senjata khas suku Aborigin di Australia. Bumerang adalah senjata yang bisa kembali ke pelempar ketika dilempar. Gerakan bumerang adalah kombinasi antara translasi dan rotasi, mirip dengan bilah baling-baling helikopter. Mungkin Anda sekarang terlintas sebuah pertanyaan, mengapa grup musik asal Surabaya itu, mengganti nama band semula&#8211;Lost Angels, menjadi Boomerang. Sayangnya kita tidak akan membahas itu kali ini&#8230;.</font></p>
<p><font size="2">If you wonder, <a href="http://science.howstuffworks.com/boomerang2.htm">how boomerang works</a>, then we have something in common.  Sebenarnya ternyata, ada dua macam bumerang, bumerang yang bisa kembali ke pelempar&#8211;returning boomerang, dan bumerang yang tidak bisa kembali.  Tentu saja yang menarik adalah returning boomerang, karena untuk membuat memerlukan perhitungan khusus agar ringan dan bisa kembali ke pelempar ketika dilempar. Jika dilemparkan dengan benar, returning boomerang akan terbang di udara, membentuk jalur edar lingkaran dan kembali ke titik awal ia dilemparkan.</font></p>
<p><font size="2">Jika kita melemparkan sebatang kayu yang lurus, ia akan bergerak ke satu arah, terus meluncur, sampai akhirnya gravitasi menariknya jatuh ke tanah. Lalu bagaimana bentuk bumerang yang unik itu bisa membuatnya berada di udara lebih lama dan bergerak kembali ke arah pelempar?</font></p>
<p><font size="2">Ciri pertama bumerang adalah paling tidak ia memiliki dua bilah yang bersatu, sehingga ia berputar di titik tengahnya, membentuk kestabilan geraknya selama berada di udara. Dua sayap yang digabung dalam satu benda inilah yang menjadi kunci dari jalur edarnya yang sedikit aneh&#8211;melingkar.  Sayap-sayap bumerang didesain dengan sedikit sudut dan memiliki rongga udara di dalamnya. Desain detailnya serupa dengan desain sayap pesawat. Kalau lebih lanjut membaca <a href="http://science.howstuffworks.com/airplane.htm">bagaimana pesawat bekerja</a>, kita akan tahu bagaimana desain ini memberikan daya angkat pada sayap itu.</font></p>
<p><font size="2">Menarik bukan, sedikit menyelidik bagaimana manusia bisa membuat benda semacam returning boomerang ini, yang bisa bergerak kembali ke arah si pelempar. Kalau sedikit merenung lebih jauh, rupanya banyak kejadian hidup kita yang mungkin menginspirasi si penemu bumerang. Ingat kata mutiara ini, &#8220;Siapa yang menanam, dia yang akan menuai&#8221; ? Rupanya sunnatullah alam ini memang begitu adanya; kita akan mendapatkan kembali apa-apa yang kita berikan, entah itu kebaikan atau kah keburukan.</font></p>
<p><font size="2">Al Fudhail bin Iyadh berkata, &#8221; Jika aku melakukan suatu maksiat maka aku akan melihat akibatnya dalam perilaku pembantu dan hewan tungganganku. &#8221; Tentu seorang Al Fudhail bin Iyadh tidak bertutur mengada-ada, tetapi pastilah merupakan mutiara hikmah kehidupannya.</font></p>
<p><font size="2">Apakah Anda memiliki seorang ustadz atau ustadzah yang Anda belajar kepada beliau dengan rutin? Lalu pada saat yang sama, Anda juga membina beberapa orang yang mereka belajar kepada Anda secara rutin? Kalau iya, berarti kita memiliki kesamaan lagi.  Aku pernah suatu ketika karena satu dan lain hal menjadi agak bandel dan nakal kepada ustadzahku, lalu itu berlalu selintas. Beberapa selang kemudian, aku menemukan seorang binaanku melakukan sesuatu yang nyaris serupa dengan yang aku lakukan kepada ustadzahku. Awalnya ingin tergoda untuk marah atau sekedar menegur dan menunjukkan bahwa ia telah berbuat salah, tapi kemudian sebuah kesadaran menyeruak, &#8221; She was so me! &#8220;, dia begitu aku. Rupanya Allah sedang menunjukkan kepadaku, begini rasanya, begini sedihnya.</font></p>
<p><font size="2">Pernahkah suatu ketika, dihadapkan kepada sebuah kondisi rumit yang berulang-ulang? Berputar-putar pada problematika yang itu-itu juga; bergerak kemanapun serasa bergerak melingkar, kembali ke titik semula, kembali ke permasalahan yang sama.  Sebenarnya, apakah hakikat problematika atau permasalahan itu?  Ustadz Hidayat Rohim dalam acara mabit MQS ke-19 di Masjid Baitul Ihsan BI, 15 Juli yang lalu, memaparkan bahwa, meski sebuah kejadian itu sama, hikmahnya bagi masing-masing hamba Allah, bisa jadi jauh berbeda. Untuk orang-orang beriman permasalahan atau musibah adalah sebuah ujian, sementara untuk orang-orang yang lalai, itu lebih merupakan sebuah teguran agar ia kembali ke jalan Allah. Adapun untuk orang-orang yang durhaka, pastilah itu semua adzab Allah baginya.</font></p>
<p><font size="2">Entah itu sebuah ujian atau teguran, memang rasanya Allah berhak untuk terus menerus mengulangi itu terjadi kepada diri kita sejauh Allah menilai kita belum benar-benar selesai, belum benar-benar lulus dengan baik. Tentu saja parameter baik tidak baik itu menggunakan standar Allah, bukan apa yang direka-reka manusia.</font></p>
<p><font size="2">Pernah tahu tentang karma? Karma; what you give, you&#8217;ll get back. Islam tidak meminta umatnya untuk beriman kepada karma. Boleh jadi, kita memang bahkan tidak perlu mengenal kosa kata ini sama sekali. Islam mengajarkan kepada kita untuk beriman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Kitab SuciNya, kepada RasulNya, kepada Hari Akhir, dan kepada Qadha dan Qadar, yang baik maupun yang buruk.</font></p>
<p><font size="2">Kita wajib yakin dengan sebenar-benarnya bahwa setiap detil kejadian hidup kita adalah atas kehendak Allah. Semua sudah tertulis, pena sudah diangkat dan lembarannya telah kering. Sehelai daun pun, yang menguning kemudian jatuh gugur dari tangkainya, pasti telah tertulis rencana Allah untuknya.  Lalu kita ini adalah makhluk Allah yang dibekali dengan akal dan qalbu; diberikan potensi untuk berpikir, merenung, menimbang baik dan buruk, mencoba memahami apa-apa yang Allah suka dan apa-apa yang Allah tidak suka. Kita boleh dan wajib menghitung diri; merenung atas semua fragmen kisah kita, kiranya apa yang Allah Kehendaki dariku kali ini.</font></p>
<p><font size="2">Jika ada yang paling menginginkan kita untuk berhasil dunia dan akhirat, pasti itu adalah Allah; Dzat yang rahmat, nikmat, cinta dan karuniaNya tak mengenal batas. Allah telah menyiapkan untuk masing-masing kita sebuah jalan yang mungkin tidak mudah dan tenang, tapi Allah Menghendaki kita dengannya menjadi hamba yang semakin taat dan cinta kepadaNya, lalu hamba itu boleh asyik berharap dapat melenggang langkah ke surgaNya.</font></p>
<p><font size="2">Imam Ibnu Al Jauzy berkata, &#8221; Jika Anda merasa jiwa Anda kotor, maka ingatlah bahwa ada nikmat yang mungkin tidak Anda syukuri atau Anda melakukan suatu kesalahan. &#8221; Jika ada yang tidak beres dengan hidup kita, pasti ada yang tidak beres juga antara kita dan Allah. Kita ini akan mendapatkan apa yang layak kita dapatkan. Jika keburukan yang kita lekatkan pada bumerang yang kita lemparkan, dari mana logikanya kita boleh berharap akan mendapatkan kebaikan bersamaan bumerang yang kembali kepada kita?  Abu Ali ar Rudzabari mengingatkan kepada kita tentang ketertipuan, &#8221; Satu hal yang menandakan bahwa engkau sangat tertipu ialah tatkala engkau berbuat jahat, namun Dia membalasmu dengan kebaikan, namun engkau tak kunjung ingin bertaubat, dengan mengira bahwa dosa-dosamu bakal diampuni. &#8221; Na&#8217;udzubillah.</font></p>
<p>Jika telah mengerti benar bahwa bumerang yang akan kembali tidak akan membawa kebaikan jika melemparnya tanpa lekatan ketulusan, mengapa masih menahan diri dari bersegera kepada kesungguhan taat kepada Allah SWT. Padahal Allah berfirman dalam hadits Qudsi, &#8221; Jika hamba-hambaku taat kepadaKu, maka akan Aku turunkan hujan kepada mereka di malam hari, Aku pancarkan matahari tanpa awan di pagi hari, dan tidak akan Aku perdengarkan gelegar guntur. &#8221; Ataukah kita ini masih ragu atas janji Allah, bahwa ketika kita mendekatnya sejengkal, maka Allah akan mendekat kita sehasta; jika kita mendekatNya sehasta, Allah akan mendekat sedepa; kalau kita berjalan mendekatNya, maka Allah akan berlari.</p>
<p>Yuk, sama-sama kita siapkan bumerang-bumerang terbaik kita, dengan bahan baku pilihan dan perhitungan yang teliti. Lalu kita belajar bersama, bagaimana melemparnya dengan baik agar jalur edar lingkaran yang tercipta benar-benar akan mengarah geraknya kembali kepada kita. Kemudian kita akan sibuk menempelkan sebanyak mungkin kebaikan dan ketaatan pada bumerang itu dan&#8230; bismillah, bumerangnya terlempar dengan baik. Semoga edaran jalurnya tetap bersama edaran Islam, sehingga kelak kita akan menangkap kembali bumerang itu dengan kebahagiaan yang memuncak, karena Allah telah Ridha kepada kita. Allahumma Amin.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=5&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/boomerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seputar Rajab</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/seputar-rajab/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/seputar-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 07:19:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/seputar-rajab/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Rajab akan kita masuki beberapa hari lagi, 26 Juli 2006 ini insyaAllah. Ini berarti bulan depan adalah bulan Sya&#8217;ban dan dua bulan lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan, Insya Allah, jika Allah Mengijinkan. Ramadhan adalah bulan berjuta keutamaan. Sya&#8217;ban juga memiliki keutamaannya sendiri, terutama bagi mereka yang bersiap-siap, melakukan pemanasan, agar bisa langsung tancap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=4&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bulan Rajab akan kita masuki beberapa hari lagi, 26 Juli 2006 ini insyaAllah. Ini berarti bulan depan adalah bulan Sya&#8217;ban dan dua bulan lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan, Insya Allah, jika Allah Mengijinkan. Ramadhan adalah bulan berjuta keutamaan. Sya&#8217;ban juga memiliki keutamaannya sendiri, terutama bagi mereka yang bersiap-siap, melakukan pemanasan, agar bisa langsung tancap gas begitu Ramadhan tiba.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan bulan Rajab? Bulan Rajab termasuk bulan haram dan puasa di bulan-bulan haram itu maqbul (diterima) dan musthahab (disukai) dalam keadaan apa pun. Bulan haram adalah bulan yang peperangan dilarang atau diharamkan dalam bulan itu. Bulan haram ada empat bulan, yaitu Dzulqa&#8217;dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam  ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat  bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka  janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang  empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun  memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang  yang bertakwa.&#8221; QS. At Taubah [9] : 36.</p>
<p>Sunnah berpuasa di bulan haram diriwayatkan dari kisah Mujibah al Bahiliyah, dalam hadits riwayat Abu Daud.<br />
Ia menemui Rasulullah saw lalu pergi. Setelah setahun berlalu, ia datang lagi dengan penampilan dan keadaan yang telah berubah. Ia berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, engkau mengenalku?&#8221; &#8220;Siapa kamu?&#8221;, tanya Rasul. Ia menjawab, &#8220;Saya Al-Bahili, yang pernah datang padamu tahun lalu.&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Apa yang mengubah dirimu, padahal dahulu engkau berpenampilan bagus?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Saya tidak makan selain pada waktu malam semenjak berpisah denganmu. &#8220;<br />
&#8220;Mengapa engkau menyiksa diri?&#8221;, tanya Rasul. Beliau lalu meneruskan, &#8220;Puasalah pada bulan sabar dan sehari setiap bulan.&#8221; Ia berkata, &#8220;Tambahkanlah karena aku kuat melakukannya.&#8221; &#8220;Puasalah dua hari.&#8221;, jawab Rasul. &#8220;Tambahkanlah.&#8221;, tawarnya. &#8220;Berpuasalah tiga hari.&#8221;, jawab Rasul. &#8220;Tambahkanlah.&#8221;, pintanya lagi. Beliau menjawab, &#8220;Puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah.&#8221; Beliau berkata sambil menunjukkan tiga jarinya, menggenggam lalu melepaskannya.</p>
<p>Namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan puasa sebulan penuh pada bulan Rajab. Sedangkan hadits-hadits yang menceritakan bahwa kalau melakukan shalat ini dan itu akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, jika melakukan puasa sejumlah hari akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, atau barang siapa beristighfar akan mendapatkan ganjaran ini dan itu; kebanyakan adalah hadits dhaif dan mungkar. Misal hadits, &#8220;Rajab adalah bulan Allah, Sya&#8217;ban adalah bulanku (Rasulullah SAW), dan Ramadhan adalah bulan umatku.&#8221;; hadits ini oleh para muhaddits dimasukkan sebagai hadits palsu dan mungkar. Meski demikian, tidak berarti kita tidak boleh shalat, puasa, atau pun istighfar pada bulan Rajab ini.</p>
<p>Jika pernah mendengar puasa di tanggal 27 Rajab, maka DR. Yusuf Qaradhawi dalam buku Fiqh Puasa-nya memasukkan puasa ini sebagai puasa bid&#8217;ah. Orang-orang yang berpuasa pada tanggal ini melakukannya karena malam 27 Rajab adalah malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah berkata, &#8220;Tidak dikenal oleh seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang menjadikan malam Isra&#8217; sebagai malam istimewa, berbeda dengan yang lain. Para sahabat dan tabi&#8217;in tidak pernah mengkhususkan malam Isra&#8217; dengan amalan-amalan tertentu, tidak juga mengenangnya dengan acara-acara tertentu. Oleh karena itu, tidak ada malam&#8211;termasuk malam Isra&#8217;, yang dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah SAW. Tidak ada dalil yang diketahui tentang bulannya, tentang 10 harinya, apalagi tentang hari H, bahkan nukilan tentang itu, semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tidak ada yang qath&#8217;i tentang itu dan tidak ada syariat bagi kaum muslimin yang mengistimewakan malam itu dengan shalat atau lainnya.&#8221;</p>
<p>Sehingga, yang paling baik bagi kita untuk bulan Rajab ini adalah memperbanyak amalan-amalan shalih dan memperbanyak puasa karena keutamaan bulan haram, serta tidak berpuasa sebulan penuh layaknya bulan Ramadhan; bukan karena ganjaran ini dan itu yang keshahihan syari&#8217;atnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi dalam rangka mempersiapkan diri menjelang pertemuan dengan Ramadhan.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishshawab.</p>
<p>Referensi:<br />
Fiqh Puasa, DR. Yusuf Qaradhawi<br />
Fiqh Ramadhan, Ahmad Sarwat, Lc</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=4&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/20/seputar-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bismillah&#8230;</title>
		<link>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/18/bismillah/</link>
		<comments>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/18/bismillah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jul 2006 09:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>martsiska</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://martsiska.wordpress.com/2006/07/18/bismillah/</guid>
		<description><![CDATA[[Hhggghh... akhirnya tidak kuasa lagi menahan godaan otak-atik wordpress]
Bismillah&#8230;
Wah, nulis apa ya? Pokoknya bismillah aja.
Seru juga ^_^
~siska~
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=3&subd=martsiska&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>[Hhggghh... akhirnya tidak kuasa lagi menahan godaan otak-atik wordpress]</p>
<p>Bismillah&#8230;</p>
<p>Wah, nulis apa ya? Pokoknya bismillah aja.</p>
<p>Seru juga ^_^</p>
<p>~siska~</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/martsiska.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/martsiska.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/martsiska.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/martsiska.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/martsiska.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/martsiska.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/martsiska.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/martsiska.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/martsiska.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/martsiska.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/martsiska.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/martsiska.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=martsiska.wordpress.com&blog=310619&post=3&subd=martsiska&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://martsiska.wordpress.com/2006/07/18/bismillah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a08306cf79b6d624ffc08843949d0b6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">martsiska</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>